Rabu, 30 Oktober 2019

contoh Menulis Esai (I)


KERANGKA BERFIKIR:
Sumber : WA Bp Ks tg 28-10-2019
Kemenpora : lomba esei
Tema: kepemudaan & sejarah usia Muda Pahlawan Indonesia.
Sub tema :
1.      Kepemimpinan muda
2.      Pemuda melek politik
3.      Peran organisasi kepemudaan dalam meningkatkan indeks pembangunan pemuda,
4.      Pemuda, dunia usaha dan industri
5.      Pemuda , filantropi dan kepedulian sosial
Kepahlawanan :
1.      Sejarah usia muda pahlawan Indonesia
Total hadiah: 90 juta
Timeline:
Registrasi dan upload naskah : 18/10 – 5 Nov 2019.
Pengumuman:
Presentasi : 13- 15 Nov 2019
50 esai terbaik akan mendapat sertifikat dan diundang mempresentasikan karyanya pada 13-5 Nov 2019 di Jakarta untuk memperebutkan juara.
Info pendaftaran: http://bit.ly/esaikemenporapendaftaran gratis.



















Tema : kepemudaan dan usia muda Pahlawan Indonesia
Sub tema : Judul : Ayo Kita Maju Bersama Antawirya
Kerangka:
PENDAHULUAN
 Pangeran Diponegoro seorang pemuda yang tangguh, berdasarkan sejarah.
TUBUH ESAI
1.      Kepemimpinan muda
2        Pemuda melek politik
3        Peran organisasi kepemudaan dalam meningkatkan indeks pembangunan pemuda,
4        Pemuda, dunia usaha dan industri
5. Pemuda, filontropi dan kepedulian sosial.

RINGKASAN IDE POKOK
Seorang antawirya patut dicontoh.


























AYO KITA MAJU BERSAMA ANTAWIRYA




SEJARAH ISLAM INDONESIA


Perang Diponegoro
(1825-1830)


Sebelas November 1785, keluarga kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berbahagia.
Hamengku Buwono III (HB-III), hari itu, mempunyai anak pertama yang dinamai
Antawirya. Konon Hamengkubuwono I (HB-I) sangat tertarik pada cicitnya itu. Ia,
katanya, akan melebihi kebesarannya. Ia akan memusnahkan Belanda.


Antawirya dibesarkan di Tegalrejo dalam asuhan Ratu Ageng, istri HB-I. Di sana
ia belajar mengaji Quran dan nilai-nilai Islam. Tegalrejo juga memungkinkannya
untuk lebih dekat dengan rakyat. Spiritualitasnya makin terasah dengan
kesukaannya berkhalwat atau menyepi di bukit-bukit dan gua sekitarnya. Hal
demikian membuat Antawirya semakin tak menikmati bila berada di kraton yang
mewah, dan bahkan sering mengadakan acara-acara model Barat. Termasuk dengan
pesta mabuknya. Kabarnya, Antawirya hanya "sowan" ayahnya dua kali dalam
setahun. Yakni saat Idul Fitri dan 'Gerebeg Maulid".


Antawirya kemudian bergelar Pangeran Diponegoro. Ia tumbuh sebagai seorang yang
sangat disegani. Ayahnya hendak memilihnya sebagai putra mahkota. Ia menolak. Ia
tak dapat menikmati tinggal di istana. Ia malah menyarankan ayahnya agar memilih
Djarot, adiknya, sebagai putra mahkota. Ia hanya akan mendampingi Djarot kelak.


Pada 1814, Hamengku Buwono III meninggal. Pangeran Djarot, yang baru berusia 13
tahun, diangkat menjadi Hamengku Buwono IV. Praktis kendali kekuasaan dikuasai
Patih Danurejo IV -seorang pro Belanda dan bahkan bergaya hidup Belanda.
Perlahan kehidupan kraton makin menjauhi suasana yang diharapkan Diponegoro.
Apalagi setelah adiknya, Hamengku Buwono IV meninggal pada 1822. Atas inisiatif
Danurejo pula, Pangeran Menol yang baru berusia 3 tahun dinobatkan menjadi raja.
Makin berkuasalah Danurejo.


Saran-saran Diponegoro tak digubris. Danurejo dan Residen Yogya A.H. Smissaert
malah berencana membuat jalan raya melewati tanah Diponegoro di Tegalrejo. Tanpa
pemberitahuan, mereka mematok-matok tanah tersebut. Para pengikut Diponegoro
mencabutinya. Diponegoro minta Belanda untuk mengubah rencananya tersebut. Juga
untuk memecat Patih Danurejo. Namun, pada 20 Juli 1825, pasukan Belanda dan
Danurejo IV mengepung Tegalrejo. Diponegoro telah mengungsikan warga setempat ke
bukit-bukit Selarong. Di sana, ia juga mengorganisasikan pasukan.


Pertempuran pun pecah. Upaya damai dicoba dirintis. Belanda dan Danurejo
mengutus Pangeran Mangkubumi -keluarga kraton yang masih dihormati Diponegoro.
Namun, setelah berdialog, Mangkubumi justru memutuskan bergabung dengan
Diponegoro. Gubernur Jenderal van der Capellen memperkuat pasukannya di Yogya.
Namun 200 orang tentara itu, termasuk komandannya Kapten Kumsius, tewas di
Logorok, Utara Yogya, atas terjangan pasukan Diponegoro di bawah komando
Mulyosentiko.


Dalam pertikaian ini, dua kraton Surakarta -Paku Buwono dan Mangkunegoroberpihak
pada Belanda. Pasukan pimpinan Tumenggung Surorejo dapat menghancurkan
pasukan bantuan Mangkunegoro. Di Magelang, pasukan Haji Usman, Haji Abdul Kadir
mengalahkan tentara Belanda dan Tumenggung Danuningrat. Danuningrat tewas di
pertempuran itu. Di Menoreh, Diponegoro sendiri memimpin pertempuran yang
menewaskan banyak tentara Belanda dan Bupati Ario Sumodilogo.


Markas Prambanan diduduki. Meriam-meriam Belanda berhasil dirampas. Di daerah
Bojonegoro-Pati-Rembang, pihak Belanda ditaklukkan pasukan rakyat Sukowati
pimpinan Kartodirjo. Pertahanan Belanda di Madiun dihancurkan pasukan Pangerang
Serang dan Pangeran Syukur. Belanda kemudian mendatangkan pasukan Jenderal van
Geen yang terkenal kejam di Sulawesi Selatan. Dalam pertempuran di Dekso, Sentot




Alibasyah menewaskan hampir semua pasukan itu. Van Geen, Kolonel Cochius serta
Pangeran Murdoningrat dan Pangeran Panular lolos.


Murdoningrat dan Panular kembali menyerang Diponegoro. Kali ini bersama Letnan
Habert. Di Lengkong, mereka bentrok. Habert tewas di tangan Diponegoro sendiri.
Pasukan Surakarta yang sepakat melawan Diponegoro dihancurkan di Delanggu.
Benteng Gowok yang dipimpin Kolonel Le Baron, jatuh dalam serbuan 15-16 Oktober
1826. Diponegoro tertembak di kaki dan dada dalam pertempuran itu. Pasukan
Sentot Alibasyah yang tinggal selangkah merebut kraton Surakarta dimintanya
mundur. Tujuan perang, kata Diponegoro, adalah melawan Belanda dan bukan
bertempur sesama warga.


Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya. Pemberontakan Paderi di Sumatera Barat,
untuk sementara dibiarkan. Sekitar 200 benteng telah dibangun untuk mengurangi
mobilitas pasukan Diponegoro. Perlahan langkah tersebut membawa hasil. Dua orang
panglima penting Diponegoro tertangkap. Kyai Mojo tertangkap di Klaten pada 5
Nopember 1828. Sentot Alibasyah, dalam posisi terkepung, menyerah di Yogya
Selatan pada 24 Oktober 1829.


Diponegoro lalu menyetujui tawaran damai Belanda. Tanggal 28 Maret 1830,
Diponegoro disertai lima orang lainnya (Raden Mas Jonet, Diponegoro Anom, Raden
Basah Martonegoro, Raden Mas Roub dan Kyai Badaruddin) datang ke kantor Residen
Kedu di Magelang untuk berunding dengan Jenderal De Kock. Mereka disambut dengan
upacara militer Belanda. Dalam perundingan itu, Diponegoro menuntut agar
mendapat "kebebasan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka bersendikan
agama Islam."


De Kock melaksanakan tipu muslihatnya. Sesaat setelah perundingan itu,
Diponegoro dan pengikutnya dibawa ke Semarang dan terus ke Betawi. Pada 3 Mei
1830, ia diasingkan ke Manado, dan kemudian dipindahkan lagi ke Ujungpandang
(tahun 1834) sampai meninggal. Di tahanannya, di Benteng Ujungpandang,
Diponegoro menulis "Babad Diponegoro" sebanyak 4 jilid dengan tebal 1357
halaman.


Pergolakan rakyat pimpinan Diponegoro telah menewaskan 80 ribu pasukan di pihak
Belanda -baik warga Jawa maupun Belanda dan telah menguras keuangan kolonial.
Hal demikian mendorong Belanda untuk memaksakan program tanam paksa yang
melahirkan banyak pemberontakan baru dari kalangan ulama. Di Jawa, para pengikut
Diponegoro seperti Pangeran Ario Renggo terus melancarkan perlawanan meskipun secara terbatas.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar